Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
[email protected] Portal Akademik Masuk
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Detail Berita
“Donor Darah 2026”: Dari Ruang Rapat Menjadi Ruang Penyelamat Nyawa di PSPD UIN Alauddin Makassar

“Donor Darah 2026”: Dari Ruang Rapat Menjadi Ruang Penyelamat Nyawa di PSPD UIN Alauddin Makassar

Sabtu, 18 April 2026, Aula Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar berubah wajah. Meja-meja rapat yang biasa menjadi saksi diskusi ilmiah disingkirkan, digantikan deretan ranjang donor. Ruang yang sehari-hari menjadi pusat aktivitas akademik kini menjelma menjadi ruang penyelamat nyawa.

Dalam kegiatan bertajuk “Donor Darah 2026” dengan tema “Giving Blood, Giving Life: A Collective Effort to Save Lives”, suasana aula dipenuhi keheningan yang sarat makna. Para relawan satu per satu berbaring, menyumbangkan darah mereka—setetes demi setetes, menjadi harapan bagi mereka yang membutuhkan.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Kedokteran (HMJK) PSPD UIN Alauddin Makassar bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI), sehingga pelaksanaannya berlangsung sesuai standar medis dan keselamatan donor.

Di balik terselenggaranya kegiatan ini, terdapat kerja terorganisir di bawah tanggung jawab dr. Henny Fauziah, M.Kes., Sp.PK. Tim Organizing Committee (OC) dipimpin oleh Sita Mardatillah selaku Ketua Panitia, didampingi oleh Andina Nur Maharani sebagai Sekretaris dan Nurul Fidyah Asnawir sebagai Bendahara.

Mahasiswa, dosen, dan civitas akademika turut ambil bagian dalam aksi kemanusiaan ini. Aula yang biasanya dipenuhi aktivitas akademik kini menjadi ruang berbagi kehidupan—sebuah transformasi yang tidak hanya terlihat secara fisik, tetapi juga terasa secara emosional.

Bagi mahasiswa kedokteran, kegiatan ini bukan sekadar agenda sosial. Ini adalah perwujudan nilai dasar profesi: empati, kepedulian, dan pengabdian. Di sinilah ilmu yang dipelajari di ruang kelas menemukan maknanya yang paling hakiki—ketika digunakan untuk menyelamatkan kehidupan.

Dan di aula itu, di antara keheningan yang khidmat, tersampaikan satu pesan yang kuat:
bahwa kemanusiaan tidak cukup dipahami—ia harus diwujudkan.