Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
[email protected] Portal Akademik Masuk
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Detail Berita
Untuk Kamu yang September Ini Mulai Kuliah Kedokteran, Beberapa hal yang ingin saya titipkan sebelum perjalanan panjang itu dimulai

Untuk Kamu yang September Ini Mulai Kuliah Kedokteran, Beberapa hal yang ingin saya titipkan sebelum perjalanan panjang itu dimulai

Untuk Kamu yang September Ini Mulai Kuliah Kedokteran, Beberapa hal yang ingin saya titipkan sebelum perjalanan panjang itu dimulai

(Trisnawaty, S.Psi., M.Psi., Psikolog – Kepala Unit BK FKIK UINAM)


September sebentar lagi. Mungkin saat ini ada yang sedang sibuk menyiapkan jas laboratorium, mencari tempat kos, mengikuti grup mahasiswa baru, berkenalan dengan teman seangkatan, atau mulai penasaran seperti apa rasanya menjadi mahasiswa kedokteran.

Ada yang sangat bahagia karena akhirnya sampai pada jurusan yang sejak lama diimpikan. Ada juga yang mungkin masih bertanya dalam hati, “Saya benar-benar siap tidak, ya?” Kalau kamu termasuk yang terakhir, tenang. Memulai sesuatu yang besar memang sering disertai rasa takut.

Tetapi sebelum perkuliahan dimulai, ada beberapa hal yang menurut saya jauh lebih penting untuk disiapkan daripada sekadar membeli buku atau mulai menghafal anatomi.

1. Pastikan kamu tahu mengapa berada di sini

Coba suatu malam duduk sebentar dan tanyakan kepada diri sendiri:

“Mengapa saya memilih kedokteran?”

Tidak perlu membuat jawaban yang terdengar hebat. Tidak harus menjawab, “Karena saya ingin menyelamatkan manusia.” Jawabanmu boleh sederhana. Yang penting, kamu mempunyai alasan yang benar-benar kamu pahami.

Sebab suatu hari nanti akan ada masa ketika kuliah terasa berat, nilai mungkin tidak seperti yang kamu harapkan, tubuh lelah, dan teman-teman terlihat seperti berjalan lebih cepat darimu.

Pada masa seperti itu, alasan mengapa kamu memulai akan menjadi sesuatu yang penting untuk kamu ingat kembali, dan kalau ternyata kedokteran awalnya lebih banyak merupakan pilihan orang tua, jangan langsung panik. Sekaranglah waktunya mulai bertanya kepada dirimu sendiri: apakah saya mau menjadikan jalan ini sebagai pilihan saya juga?

2. Jangan membawa cara belajar SMA mentah-mentah ke kedokteran

Ini salah satu hal yang sering mengejutkan mahasiswa baru. Di sekolah, mungkin kamu terbiasa belajar menjelang ujian dan masih mendapatkan nilai bagus. Di kedokteran, pola seperti itu bisa membuatmu cepat kewalahan. Materinya banyak dan terus bertambah. Karena itu, mulailah biasakan belajar sedikit demi sedikit, tetapi rutin.

Tidak perlu menunggu sampai tugas menumpuk. Tidak perlu pula belajar sampai dini hari setiap hari hanya karena ingin terlihat rajin. Yang kamu perlukan adalah menemukan cara belajar yang cocok untuk dirimu.

Ada orang yang cepat memahami dengan membaca. Ada yang perlu membuat gambar. Ada yang lebih mudah mengingat setelah menjelaskan kembali kepada temannya. Yang penting adalah apakah kamu benar-benar memahami apa yang sedang kamu pelajari.

3. Jangan langsung merasa bodoh ketika bertemu teman-teman yang pintar

Ini penting kamu resapi. Kamu mungkin terbiasa menjadi salah satu siswa terbaik di sekolah. Lalu masuk kedokteran dan tiba-tiba berada dalam satu ruangan dengan puluhan orang yang dulu juga juara di sekolahnya masing-masing.

Ada teman yang sekali membaca langsung paham. Ada yang berbicara sangat percaya diri. Ada yang sudah menjawab pertanyaan dosen ketika kamu bahkan masih mencoba memahami pertanyaannya.

Jangan buru-buru menyimpulkan:

“Kayaknya saya salah masuk.”

Kamu tidak harus menjadi yang paling cepat untuk menjadi dokter yang baik. Setiap orang mempunyai cara dan kecepatan belajar yang berbeda. Bandingkan perkembanganmu dengan dirimu sendiri, bukan terus-menerus dengan orang lain. Tapi kamu harus punya ritme belajar yang konsisten. Mungkin tidak lama, tapi sering dan konsisten.

4. Belajarlah mengatur diri sebelum jadwal yang mengatur hidupmu

Kuliah kedokteran akan mengajarkan banyak ilmu, tetapi kamu sendiri yang harus belajar mengatur kehidupanmu.

Kapan belajar, kapan tidur, kapan makan, kapan beristirahat, kapan menelepon orang tua, kapan berhenti membuka media sosial dan mulai mengerjakan tugas.

Hal-hal kecil seperti ini terlihat sepele, tetapi justru sering menjadi pembeda antara mahasiswa yang mampu bertahan dengan cukup sehat dan mahasiswa yang terus-menerus merasa dikejar-kejar. Kamu tidak harus menjadi manusia superproduktif. Kamu hanya perlu mulai belajar mengelola dirimu sendiri.

5. Tidur bukan tanda kemalasan

Saya ingin mahasiswa baru mengingat ini sejak awal. Tubuhmu bukan mesin. Jangan menjadikan kurang tidur sebagai simbol kebanggaan mahasiswa kedokteran. Sesekali keadaan mungkin membuatmu tidur lebih larut. Tetapi jangan membangun identitas bahwa mahasiswa kedokteran memang harus selalu kurang tidur, minum kopi berlebihan, melewatkan makan, lalu membanggakan diri karena tetap bisa datang kuliah. Kamu sedang belajar tentang kesehatan manusia. Mulailah dengan tidak mengabaikan tubuhmu sendiri.

6. Nilai jelek bukan akhir dari cerita

Mungkin untuk pertama kalinya dalam hidupmu kamu akan mendapatkan nilai yang membuatmu kecewa, dan itu bisa terasa sangat menyakitkan, terutama jika selama sekolah kamu selalu mendapatkan nilai tinggi. Boleh kecewa. Tetapi jangan mengubah satu nilai menjadi kesimpulan tentang seluruh dirimu.

Nilai ujian mengatakan sesuatu tentang performamu pada satu kesempatan. Ia tidak mengatakan bahwa kamu bodoh, gagal, atau tidak layak menjadi dokter.

Tanyakan:

“Di bagian mana cara belajar saya perlu diperbaiki?”

Bukan:

“Ada apa yang salah dengan diri saya?”

Itu dua pertanyaan yang menghasilkan perjalanan psikologis yang sangat berbeda.

7. Cari teman, bukan hanya pesaing

Teman kuliah akan menjadi bagian penting dari perjalananmu. Kalian mungkin akan belajar bersama, panik menjelang ujian bersama, saling meminjam catatan, berbagi makanan, sampai suatu hari masuk ke rumah sakit dan menghadapi pasien bersama.

Jangan menjalani kedokteran dengan pikiran bahwa semua orang adalah kompetitor. Tentu kompetisi ada. Tetapi kemampuan bekerja bersama jauh lebih penting. Kelak ketika menjadi dokter, kamu tidak bekerja sendirian. Kamu akan bekerja dengan dokter lain, perawat, apoteker, tenaga kesehatan lainnya, pasien, dan keluarganya. Belajarlah menjadi teman yang baik sejak sekarang.

8. Kenali tanda ketika dirimu mulai kewalahan

Capek setelah belajar itu wajar. Cemas menjelang ujian juga bisa terjadi. Tetapi kalau kamu mulai merasa kecemasan tidak terkendali, sulit tidur terus-menerus, kehilangan minat terhadap banyak hal, sulit menjalankan aktivitas sehari-hari, merasa sangat putus asa, atau muncul dorongan untuk menyakiti diri, jangan menunggu sampai semuanya menjadi lebih berat.

Carilah bantuan. Bicaralah kepada orang yang kamu percaya. Datangi layanan konseling kampus/fakultas atau tenaga profesional jika dibutuhkan. Meminta bantuan tidak membuatmu menjadi mahasiswa kedokteran yang lemah.

Justru kemampuan mengenali bahwa diri kita sedang tidak baik-baik saja adalah salah satu bentuk kedewasaan. Kamu sedang belajar menjadi seseorang yang kelak menolong orang lain. Jangan lupa bahwa pada suatu masa, kamu sendiri mungkin membutuhkan pertolongan.

9. Jangan kehilangan kehidupanmu hanya karena sekarang kamu mahasiswa kedokteran

Kamu tetap seorang anak bagi orang tuamu. Tetap seorang sahabat. Tetap memiliki hobi.

Tetap membutuhkan tertawa. Tetap membutuhkan olahraga, ibadah, istirahat, dan waktu tanpa buku kedokteran. Kedokteran memang akan menjadi bagian besar dari hidupmu. Tetapi jangan biarkan ia menjadi seluruh identitasmu.

Suatu hari kamu mungkin menjadi dokter. Tetapi sebelum menjadi dokter, kamu adalah manusia. Jaga bagian itu baik-baik. Lakukan semua sesuai porsinya. 

10. Dari semester pertama, ingatlah bahwa yang akan kamu hadapi kelak adalah manusia

Anatomi yang kamu pelajari adalah tubuh manusia. Penyakit yang kamu hafalkan terjadi pada manusia. Dan obat yang kamu pelajari akan diberikan kepada manusia. Kelak pasien tidak hanya mengingat apakah kamu mengetahui diagnosisnya. Mereka juga dapat mengingat bagaimana kamu berbicara kepada mereka ketika mereka takut. Bagaimana kamu memperlakukan orang tua mereka.

Apakah kamu mendengarkan. Apakah kamu menghormati. Apakah mereka merasa tetap menjadi manusia ketika sedang sakit. Karena itu, jangan hanya mengejar menjadi mahasiswa yang pintar. Peliharalah empati sejak hari pertama.

Untuk kamu yang akan memulai pendidikan kedokteran September ini, perjalananmu memang tidak selalu mudah. Akan ada hari yang menyenangkan. Akan ada hari ketika kamu bangga pada dirimu sendiri. Akan ada pula hari ketika kamu mungkin bertanya, “Saya sanggup tidak melanjutkan ini?”

Ketika hari itu datang, tidak apa-apa berhenti sebentar untuk mengevaluasi diri, memperbaiki cara berjalan, dan mencari pertolongan jika diperlukan. Kamu tidak dituntut menjadi sempurna sejak semester pertama.

Kamu sedang belajar. Bukan hanya belajar menjadi dokter, tetapi juga belajar menjadi manusia yang suatu hari nanti dipercaya untuk merawat manusia lainnya. Jadi, sebelum September tiba, selain menyiapkan buku, laptop, jas laboratorium, dan segala kebutuhan kuliahmu, siapkan juga satu hal yang sering terlupakan: dirimu sendiri.

Selamat datang di perjalanan panjang menjadi dokter. Belajarlah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan kehilangan dirimu di sepanjang perjalanan itu.

Makassar, 24 Agustus 2026